MENULIS itu asyik bisa menjadi pengisi waktu saat senggang, juga bisa menjadi kegiatan rutin sehari-sehari di sela-sela menemani anak-anak. Menulis ini pula yang membuat saya memiliki banyak teman dari berbagai daerah.
Novel WETON, Bukan Salah Hari saya angkat dari kebiasaan masyarakat Jawa dalam menyikapi weton. Karenanya tak jarang ada pembaca yang merasa jalinan cerita dalam Weton memiliki kesamaan dengan nasibnya. Salah satunya gagal menikah meski sudah lama menjalin kasih, hanya karena weton tak cocok. more…
NGUPING atau sembunyi-sembunyi mendengarkan pembicaraan orang sering dilakukan oleh Mukti. Tokoh utama dalam novel WETON yang suka sekali nguping pembicaraan orangtuanya. Nguping yang ia lakukan masih nguping yang sehat, dalam arti ingin tahu masalah apa tengah mendera orangtua dan keluarganya.
Masa kecil dulu saya suka sekali nguping pembicaraan orangtua, biasanya mak sama bapak ngomongnya lirih dan seringnya di warung. Karena nguping yang saya lakukan itu saya jadi tahu kondisi orangtua saya. Saya pernah menyesal karena meminta ke bapak untuk dibelikan sepeda mini. Alasan saya agar ke sekolah SD Kasepuhan II, sekolah dasar yang lokasinya saya jadikan setting novel NAWANG ini memang jauh. Saya tinggal di Kabundelan, tapi sekolah di Kasepuhan. more…
JARWO adalah laki-laki miskin tetapi ia ulet dalam bekerja. Sosoknya saya ambil dari salah satu tetangga nenek saya di Batang. Sebut saja Leonardo Dicaprio he he, wajahnya emang mirip dengan actor Titanic yang fimnya bikin saya tercengang melihatnya. Saat film selesai atau saat terjaga dari tidur, pikiran masih tertuju pada film itu dan merekam kembali dalam ingatan. Begitu fantastik. Balik lagi ke soal Leonardo, ia hanya lulusan SMA karena alasan ekonomi tak sempat belajar sampai ke bangku kuliah. Untuk menghidupi dirinya dan ibunya Leonardo berdagang berbagai macam baju dengan keliling kampung. Di mana ada pasar malam atau pertunjukkan Leonardo akan menggelar dagangannya. Sosok Leonardo yang ulet itu ternyata tak mampu menggetarkan hati ibu pacarnya. Lamarannya ditolak karena kemiskinannya. Sang ibu lupa bila Leonardo Dicaprio itu memiliki kekayaan yang luar biasa yakni semangat dan etos kerja juga niatnya menafkahi anak gadisnya. Ke mana Leonardo sekarang? Untuk mengenangnya saya mengabadikannya dalam tokoh Jarwo. Jarwo sendiri saya ambil dari nama salah satu teman saya yang seorang anggota Polri. Kedua-duanya sama-sama tak saya ketahui kabarnya hingga kini. Saya jauh meninggalkan Batang, demikian juga dengan Leonardo dan Jarwo.
MEMBACA novel terbaru saya WETON, Bukan Salah Hari akan membawa pembaca seperti pelesiran ke tanah Jawa, khususnya Batang. Kota kecil di Jawa Tengah yang masih jarang dikenal oleh orang luar Jawa, bahkan yang orang Jawa saja ada yang tidak tahu Batang itu ada di mana. Letaknya di sebelah Pekalongan memang terkesan hanya menjadi bayang-bayang dari kota Batik itu. Setiap kali saya ditanya dari mana asal saya, saya akan menjawab dari Batang Pekalongan untuk menghindari si penanya bertanya lebih detil lagi, seperti “Di mana itu?”, dengan menautkan kening kuat-kuat. Dengan merangkaikan kota Pekalongan, orang akan paham. more…
BAGUS dalam novel WETON, Bukan Salah Hari harus dikhitan meski masih sangat muda untuk ukuran kebiasaan Batang. Bagus masih berusia balita ketika dikhitan. Di novel Weton itu saya gambarkan bagaimana tegangnya Sri saat harus menemani Bagus saat dikhitan.
Soal khitan ini saya ambil dari kisah saya ketika harus mengkhitankan Rizki di usia tiga tahun lebih. Setelah mengurus segala sesuatunya, disepakati Rizki dikhitan pagi hari pukul enam. Saya dan si sulung yang menemani selama Rizki dikhitan. Suami memilih di luar karena nggak tega. more…
MASIH ingat tokoh Bagus dalam novel WETON, Bukan Salah Hari kan? Disitu saya ceritakan Bagus harus dikhitan meski masih kecil. Faktor kesehatan ini dipandang Mak sebagai akibat Sri yang tetap teguh menikah dengan Jarwo meski Weton mereka tak bagus. more…
BERTANYALAH makna sehat pada sisakit, kira-kira sisakit akan menjawab bahwasannya sehat itu menyenangkan, sementara sakit bikin kita menderita. Sakit yang didera Bagus dalam novel Weton, Bukan Salah Hari memang sakit yang biasa diderita anak-anak kecil, demam. Demam ini menjadi tak wajar ketika Bagus sering sakit.
Sosok Bagus sebenarnya saya angkat dari serpihan keseharian saya ketika menghadapi Rizki, anak kedua saya yang laki-laki. Dibanding kakaknya Rizki waktu balita dulu sering demam. Hampir bisa dipastikan setiap bulan kami selalu mengunjungi ke dokter memeriksakan kesehatan Rizki. Ia selalu saja demam hingga puncakya dirawat di rumah sakit selama satu minggu lebih. Rizki termasuk lama tinggal di kamar rumah sakit, kami waktu itu menempati ruang dua. Satu kamar ditempati tiga pasien, kedua anak yang dirawat sudah keluar dan untuk beberapa hari kami merasa lapang di ruangan itu. Rizki hanya sendirian, karena lama belum pulang juga, salah satu perawat bercanda ke Rizki dengan berujar”Aduh pak RT mau pulang kapan, masih betah di sini.” Rizki waktu itu hanya tersenyum tipis. more…
ADA pameo Jawa yang sampai sekarang masih suka bikin saya menebak-nebak, yakni ungkapan banyak anak banyak rezeki. Adakah ungkapan ini benar atau sebaliknya, saya pikir tergantung dari pendapat setiap individu. Ibu saya termasuk orang yang memiliki banyak anak, sampai enam. Jarak usia saya dengan adik pertama saya hanya satu tahun, lalu ke adik kedua saya tiga tahun. Saya merasakan betul beratnya masa-masa sekolah dulu. Ibu sama bapak kerja montang-manting demi sekolah kami. Saat saya masuk SMP tahun depan adik saya masuk SMP. Saat saya masuk SMEA adik kedua saya masuk SMP. more…
MASIH ingat dengan rumah kuno yang saya jadikan sebagai rumah Sayuti di novel Weton kan? Rumah yang berada persis di mulut gang belimbing. Nah jika kita masuk ke dalam akan ada sebuah rumah yang rindang berpagar tinggi bagian belakang rumah. Maklum rumah ini bersebelahan dengan sungai yang mengalir menuju ke laut. Rumah ini berada di urutan kedua dari mulut gang. Inilah rumah milik Bidan Tin.
Saya punya hubungan emosional dengan bidan Tin. Beliau adalah bidan senior yang ada di kampungku, di Bundelan Batang. Beliau yang menolong ibu saya ketika melahirkan saya dulu. Bayangkan usianya sekarang berapa ya? Saya sendiri sudah tigapuluh lima tahun. Bidan Tin ini juga yang menolong kelahiran kelima adik-adik saya. more…
NOVEL Weton, Bukan Salah Hari saya garap dengan semangat menonjolkan karakter Batang. Lokasi-lokasi yang ada dalan novel Weton akan dapat pembaca temui saat berkunjung ke Batang, atau ketika melewatinya melalui jalur pantai utara. Saya yakin bila wong Batang, biasanya menyebutnya dengan tambahan huruf m jadi mBatang akan kenal betul lokasi dalam novel ini. Dan jika sampean tinggal di Jalan Yos Sudarso rasanya tak mungkin tidak mengenal gang Belimbing.
Jika kita turun di alun-alun Batang dari arah Jakarta, kita memasuki Yos Sudarso. Cukup dengan jalan kaki duaratus meter kemudian, atau tak jauh dari rel kereta api kita akan bertemu dengan sebuah gang yang di mulutnya terdapat patung buah belimbing. Dulu persis di mulut gang ini terdapat rumah besar bergaya kuno dengan halaman depan samping dan belakang teramat luas. Ada beberapa pohon besar mengelilingi rumah itu, hingga kalau siang begitu asri, jika malam agak menakutkan, karena rumah itu hanya dihuni oleh penjaga rumah. Konon anak-anak dari keluarga itu berada di luar kota Batang. more…

